Home » , » Kita semua adalah kutu loncat?

Kita semua adalah kutu loncat?

Written By HZH on Thursday, April 25, 2013 | 8:56 AM



“Home Zweet Home,” demikian status Twitter seorang  teman pada suatu ketika. Rumah kita sendiri sesederhana apapun keadaannya, memang adalah tempat yang paling nyaman dibandingkan dengan tempat lain, semewah apapun itu. Kita memiliki ikatan emosional dengan rumah kita masing-masing. Tetapi mari kita bayangkan misalnya Rumah kita “Terbakar” atau “Kebanjiran”. Atau mari membayangkan seorang anak yang diusir dari rumahnya karena berbeda pendapat dengan orangtuanya. Secara manusiawi maka tentunya kita akan mencari Rumah lain untuk mendapat perlindungan baik tetap maupun sementara.

Di dalam dunia pekerjaan Perusahan Swasta, Pindah tempat kerja demi mendapatkan sesuatu yang lebih baik atau buruknya tempat kerja yang lama adalah sesuatu yang normal dan bukan kejadian luar biasa.

Anda fanatik dengan Kopi buatan kedai kopi yang sebut saja namanya “Rumah Kopi Pertigaan” yang terkenal dengan kopinya yang enak? Apakah kemudian rasa fanatik itu akan tetap dipertahankan jika pada suatu ketika ternyata kualitas kopinya anjlok yang menyebabkan anda mual dan muntah ketika meminumnya? Secara manusiawi saya yakin anda akan mencari kedai kopi yang lain.

Jadi apa hubungannya dengan “kutu loncat,” judul tulisan ini?
Secara harafiah, Kutu loncat adalah serangga kecil yang merupakan anggota suku Psyllidae. Serangga ini hidup dengan memakan cairan tumbuhan, sehingga beberapa jenisnya dikenal menjadi hama berbahaya. Belakangan, kutu loncat diartikan sebagai Politisi yang suka berpindah partai. Meminjam istilah sebuah grup musik : “Politisi Juga Manusia” yang akan bertindak sama seperti anda pada contoh-contoh di awal tulisan ini. Kalau begitu apakah kita semua pada dasarnya adalah “kutu loncat?” Kutu loncat adalah serangga, dan kita bukan serangga tetapi adalah manusia : makhluk mulia yang TUHAN berikan akal budi untuk bisa berkarya dan menjadi berkat bagi orang lain. Kita bukan Kutu Loncat, tetapi kita adalah Manusia.
Sangat disayangkan Partai yang telah bertahun-tahun mengkaderkan seseorang, tetapi pada akhirnya justru “mengusir” seseorang tersebut. Semenjak kita meninggalkan sistem yang hanya memilih “tanda gambar” dan  menerapkan sistem memilih “orang,” maka terjadi pergeseran nilai. konstituen lebih bersimpati kepada “individu seseorang” dibandingkan dengan partai, karena pada dasarnya Seorang politisi yang baik haruslah memperjuangkan aspirasi masyarakat “lebih” daripada kepentingan partai politiknya.

Saya kutu loncat? “Sama skali bukan pak, saya hanyalah seorang aktivis pemuda yang ingin memberi warna idealisme muda di parlemen, dan untuk mewujudkan itu syarat awalnya adalah dicalonkan dari suatu partai politik.” :)
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. My CORAT CORET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger