Home » , » Om... “Nya’ ‘Da Ontak” Om... (Catatan Demo Angkot 23 Maret)

Om... “Nya’ ‘Da Ontak” Om... (Catatan Demo Angkot 23 Maret)

Written By HZH on Thursday, March 23, 2017 | 1:51 AM

sumber foto: Manado.tribunnews.com


Kemarin ada beberapa yang share di media Sosial beberapa foto. Kelihatannya Rapat beberapa orang (mungkin ketua-ketua Basis) yang  intinya akan ada Demonstrasi Mikro (Sebutan untuk angkutan kota di Manado) pada hari ini. Para sopir tidak akan “mancari” (baca : Narik angkot) karena merasa keberatan akan kehadiran dari Gojek, Gokar dan Taksi Gelap. Berikut Pengalaman saya Pribadi pada hari ini berkaitan dengan hal di atas.

Hari ini rencananya mau ke luar kota menggunakan angkot mengambil mobil pribadi yang dititipkan di rumah kerabat. Sampai di pinggir jalan tempat biasa menunggu angkot lewat, banyak orang yang menunggu plus ada Bapak-bapak dari DLLAJ. “lebe bae trus jo pake ngana pe motor, ni hari dorang ba demo termasuk yang jalur luar kota” (Lanjut jalan saja pake Motor kamu, hari ini sopir mogok termasuk yang ke luar kota) kata salah satu petugas tersebut. Dan apa boleh buat, usul diterima. Walau pasti nanti pegal pinggang menempuh perjalanan yang agak jauh apalagi ada muatan boncengan tambahan, si Andri yang nanti akan membawa pulang motor.

Sepanjang jalan, banyak terlihat penumpang yang terlantar. Banyak yang  akhirnya memilih naik Ojek konvensional (Sebut saja begitu untuk membedakan dengan Gojek). Sepertinya Ojek Konvensional hari ini “Panen Raya” walau herannya ojek jenis ini tidak termasuk yang ditolak para pendemo, padahal punya sistem operasi yang hampir sama dengan gojek. Mereka hanya tidak punya tarif standart berdasarkan Km tetapi berdasarkan “Feeling” dan “Nego di tempat” dan mereka tidak punya standart penilaian setelah selesai bertugas, tidak seperti Gojek yang pengguna jasanya bisa memberi nilai 5 bintang kalau merasa pelayanan driver gojek bagus sekali ataupun nilai 1 bintang kalau sebaliknya. 

Singkat kata singkat cerita, kembali ke Manado dengan mobil pribadi. Singkat kata dan singkat cerita juga dengan semua perasaan, kata hati, dan sejenisnya. Saya akhirnya menepikan mobil ketika ada seorang asing yang nampaknya mahasiswa melambaikan tangan. Teringat bagaimana rasanya jadi mahasiwa dulu dengan berbagai kekurangan sumber daya tetapi harus banyak berjuang menghadapi banyak persoalan dari dosen killer, Tugas bertumpuk, KKN, Skripsi, dll... hmmmmm... Singkatnya saya mempersilahkan mahasiswa tersebut menumpang plus dua  ibu-ibu dan satu bapak yang punya tujuan ke Manado.

Tiba- tiba.....

Sebuah Mobil Angkot Menghampiri kami. Muka garang diperlihatkan sang sopir kemudian membentak. “Kase turung ato sampe Manado pica ngana pe oto, kita SMS ngana pe DB skarang pa dorang” (turunkan penumpang atau sampai di Manado kaca mobil kamu akan pecah. Saya sms pelat nomor kamu ke mereka sekarang).

“Mereka ini saudara-saudara saya pak (sambil ingat ada syair lagu : dalam Tuhan, kita bersaudara. Dalam Tuhan, kita bersaudara)” silahkan anda demonstrasi tetapi apakah wajar anda mengurusi para penumpang yang anda tolak untuk layani? Ini kan seperti ada mantan yang melarang mantan pacarnya untuk didekati orang lain padahal dulu dia yang memutuskan cinta. (LOL). 

Sepanjang jalan para penumpang saya terlibat diskusi hangat, padahal baru saja bertemu pada hari itu. Berikut hal-hal yang mereka sampaikan.

Taksi Gelap & Ojek Konvensional
Sejak bertahun-tahun lalu, 2 hal ini sudah ada dan kelihatannya tidak ada gesekan. Coba kunjungi TKB di pusat kota Dari ujung ke ujung berjejer taksi gelap dengan sistem “carter harian/minggu/bulan”  kemudian ke depan-depan lorong di jalan utama, kita akan menemukan pangkalan-pangkalan ojek yang hampir semua memanfaatkan daerah manfaat jalan (di atas drainase, bahu jalan, dll) yang jelas-jelas melanggar. Apakah dengan kehadiran mereka orang tidak mau lagi naik angkot? Jelas tidak. Taksi gelap hanya di carter saat-saat tertentu saja (Ibu ke dua bilang : “waktu ada pengucapan di langowan, jadi pulang kampung, sedangkan sehari-hari menggunakan Angkot. Ojek digunakan untuk jarak dekat saja yang tidak ada layanan Mikrolet dari depan lorong sampe ke dalam perumahan. Lalu mengapa sekarang Gojek menjadi masalah?).

Low IQ
Si mahasiswa kemudian menyimpulkan :kalau naik gojek biaya dari Manado ke sini hampir 50 Ribu, sedangkan kalau naik angkot tidak lebih dari 10 ribu. Apakah logis kami lebih memilih gojek daripada angkot? Apakah om-om sopir nda bisa hitung? Serendah itukah IQnya sampai tidak bisa hitung, dan menyusahkan kami orang yang susah. Dan ternyata ada patroli untuk “Sweaping” layaknya ormas-ormas radikal untuk penumpang yang berhasil cari jalan keluar. Wajar kalau ada kendaraan pribadi yang memanfaatkan situasi apalagi ada yang berbaik hati memberikan tumpangan gratis. Siapa suruh mereka mogok. 

Om... “Nya’ ‘Da Ontak” Om...
Om... “tidak ada otak” om... kata si ibu 1 marah ketika angkot yang mencegat kami sudah agak jauh (:D “berani dibelakang ternyata...”) “kita sumpah pa ngana.... semoga ngana pe bini anak ada saki kong pas dola oto, nya dapa oto supaya ngana rasa...” (saya mengutuk kamu.. semoga waktu istri anakmu sakit lalu waktu di pinngir jalan minta pertolongan tumpangan, tidak ada mobil yang memberikan, dan kamu rasakan itu). “Di Mana ngoni pe hati..?” (di mana hati kalian?)

Anda setuju dengan para penumpang saya? :D

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. My CORAT CORET - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger